Surga Di Lombok Utara (ACI 2011)

Kopi hitam panas dan juwet buah anggur khas Lombok menemani obrolan malam kami. Tiba-tiba ada yang nyelutuk “Iya tuh, musti mandi di air terjunnya kalo mau menikah”. Reaksi saya? Tentu saja melongo. “Maksudnya gimana tuh Mas?” tanyaku masih bingung. Ternyata konon mitosnya bagi pengunjung Air Terjun Tiu Teja yang masih belum menikah harus mandi di air terjun tersebut. Mendengar hal ini saya cuman bisa menelan ludah. Perkaranya adalah saya paling malas main air di air terjun karena infrastruktur untuk ganti baju dan mandi sangatlah terbatas.

Keesokan harinya, ketika matahari mulai keluar menuju peraduannya kami pun bersiap-siap untuk tracking ke Air Terjun. Perjalanan ditempuh hampir satu jam, mulai dari melewati keindahan hutan hujan tropis, menyeberang sungai, mendaki bukit kecil, dan tentu saja yang paling menantang adalah digigit lintah. Jenis lintahnya adalah lintah jarum yang kecil-kecil. Akhirnya sampai juga kami ke air terjun yang dimaksud. Hal yang pertama dilihat mata dan yang terpikirkan hanya satu kata “WOW”. Indah sekali air terjun Tiu Teja. Surga indah yang tersembunyi. Belum banyak masyarakat yang tahu akan lokasi air terjun ini. Kami bisa sampai ke tempat ini berkat bantuan dari teman-teman pendamping kami yang luar biasa tangguh dan tangkas.

Tinggi air terjun ini sekitar 40 meter dengan lebar sekitar 10 meter dikelilingi oleh tumbuhan yang masih asri dan lebat. Terdapat pula kolam kecil berisikan lumut. Kolam di kaki air terjun dalamnya sekitar 1.2 meter sehingga aman bagi pengunjung yang tidak trampil berenang sekalipun.

Sejenak terlintas dalam pikiranku, kalau yang seperti ini sih tidak perlu diiming-imingi mitos pun semua orang pasti terjun dan mandi di kolam air terjun yang begitu indah dan segar. Perjalanan yang cukup menguras tenaga terbayarkan lunas tuntas.

Berkunjung ke Lombok harus berkunjung ke air terjun Tiu Teja ini. Lokasinya di Desa Santong. Akses menuju ke pintu air cukup mudah ditemukan. Selanjutnya harus menelusuri jalan setapak. Untuk lebih amannya, Anda disarankan untuk meminta panduan dari penduduk setempat.

Air Terjun Tiu Teja, keindahan dan kebanggaan Lombok yang tersembuyi. Seufuk surga di Utara Lombok.

Advertisements

Merah Putih di Bawah Laut Kenawa (ACI 2011)

Kenawa, nama yang tidak sering kita dengar. Tapi coba deh cari di internet, Anda pasti akan kagum dengan keindahan gambar-gambar yang ditampilkan. Tempat ini benar-benar indah. Pantai pasir putih masih bersih dan asri dengan sabana yang menguning seakan menyambut kedatangan kami. Bukit kecil di tengah pulau seakan memanggil kami untuk menaklukkannya di siang yang terik membakar. Namun panggilan laut lebih kuat. Dengan semangat menyebarkan rasa Cinta Indonesia, kami segera meloncat ke air membawa Sang Merah Putih. Kami pun tidak menyia-nyiakan waktu untuk mengibarkan Merah Putih di bawah laut Kenawa.

Setelah pengibaran Merah Putih, petualangan snorkeling kami pun  segera dimulai. Jarak pandang yang mencapai 10-15 meter diterangi cahaya matahari memantulkan pemandangan yang luar biasa dari terumbu-terumbu yang masih asri. Ikan-ikan kecil berenang gembira di sela-sela anemon-anemon. Karang-karang warna warni membuat bawah laut semakin indah untuk dipandangi.

Sayang sekali kami tidak bisa menyelam karena belum ada operator menyelam yang beroperasi di tempat ini. Disarankan kepada para pengunjung untuk bisa membawa alat selam dari Mataram sebelum menyeberang dari Pelabuhan Khayangan menuju Poto Tano. Untuk pemandu menyelam, Anda bisa menghubungi Dinas Kelautan yang berlokasi di dekat pantai.

Selesai snorkeling, kami pun mendaki bukit kecil tersebut dan menemukan pemandangan yang luar biasa dari atas bukit. Pemandangan seluruh Pulau Kenawa terlihat dari atas bukit. Tiada kata untuk mengungkapkan  betapa indahnya laut biru Indonesia dan gugusan pulau yang berdiri sendiri namun bernaung dalam satu kesatuan Negara Indonesia.

Untuk Anda yang mencari lokasi berlibur yang masih asri dan berbeda, Kenawa lah jawabannya.

Satu Kata Untuk Satonda: Indah! (ACI 2011)

Seorang teman yang tinggal di Desa Calabai membawa kami ke sebuah pulau yang indah. Speed boat pun melaju membelah laut yang teduh membawa kami kira-kira satu jam lamanya menuju ke Pulau Satonda. Pulau Satonda tidak berpenghuni, satu-satunya kehidupan tetap di sana hanyalah seekor monyet yang dipelihara oleh pengawas pulau yang selalu datang dan pergi untuk memantau perairan di sekitar pulau untuk melindungi daerah tersebut dari nelayan-nelayan nakal yang memakai bom ikan.

Pulau Satonda sangat cantik dengan dermaga yang cukup panjang membawa kami memasuki pulau tersebut. Kami pun bersiap dan segera meloncat ke dalam air mengikuti teman kami yang sudah duluan menghilang ke dalam air untuk mencari ikan. Sayang sekali kami tidak mempunya kamera underwater  padahal keindahan bawah laut Pulau Satonda tidak cukup untuk dilukiskan dengan kata-kata saja. Perairannya juga cukup unik karena dalam jarak 1 km kami menjelajah dan snorkling, kami melewati beberapa kali pergantian air panas dan air dingin. Terumbunya masih asri dan ikan-ikannya sangat indah. Kedalamannya sekitar 5-8m dengan jarak pandang 20m.

Kesunyian pulau ini cocok untuk kami yang ingin sejenak menyepi dari hiruk pikuk selama perjalanan panjang menuju Desa Calabai. Pemandangan sore yang indah dan sajian ikan bakar hasil tangkapan teman membuat suasana yang sangat menyentuh dan akrab.

Perjalanan kembali ke alam selalu mengingatkan kami betapa besar dan hebatnya Sang Maha Kuasa dan selalu dapat merekahkan kembali secercah senyuman di wajah kami.

Pernah Dengar Air Danau Asin? Jawabannya Ada di Satonda (ACI 2011)

Di tengah Pulau Satonda terdapat sebuah danau. Danau ini sangat unik karena air danaunya merupakan air asin. Tapi, bukan hanya itu, danau ini juga memiliki keunikan-keunikan lain.

Simak keunikan-keunikan Danau Air Asin Satonda berikut ini:

  1. Danau ini ditumbuhi lumut yang sangat tebal, padahal lumut seyogianya tumbuh di air tawar.
  2. ]Permukaan air danau ini lebih tinggi dari permukaan air laut yang mengelilingi pulau tersebut.
  3. Menurut penelitian yang pernah dilakukan, kadar garam air danau ini lebih tinggi daripada kadar garam air laut yang mengelilingi Pulau Satonda.
  4. Ikan di danau ini hanya bisa hidup sampai seukuran kelingking pria dewasa, selanjutnya pasti mati. Hal ini mungkin disebabkan karena sumber makanan bagi ikan-ikan ini sangat terbatas dikarenakan lumut yang sangat tebal.
  5. Di pulau ini terdapat mitos Pohon Kalibuda. Konon kalau kita menggantungkan batu pada pohon ini dan membuat permohonan, niscaya akan terkabulkan.
  6. Batu yang digantung di Pohon Kalibuda ini harus diambil kembali kelak setelah permohonan terkabul.
  7. Pada tahun 1990-an terdapat goa di sebelah Selatan danau yang menghubungkan danau dengan laut, akan tetapi sekarang goa tersebut sudah tertutup.
  8. Danau ini sangat dalam, yaitu sekitar 70 meter.
  9. Daya tembus matahari hanya mencapai sekitar 10 meter karena terhalang oleh lumut yang sangat tebal.
  10. Konon menurut kepercayaan masyarakat setempat, danau ini merupakan kawah dari hasil erupsi Satonda yang terjadi sebelum erupsi Tambora. Pada saat Tambora meletus terjadi tsunami yang membawa air laut masuk menggenangi Danau Satonda sehingga air danau ini menjadi air asin selayaknya air laut.

 

Demikian beberapa hal yang dapat saya sampaikan mengenai Danau Satonda. Tentu saja Danau ini sangat menarik dan cantik untuk dikunjung. Dan, mungkin Anda akan tertarik untuk mencoba mitos Pohon Kalibuda itu sendiri.

Bodoh Tapi Senang! (ACI 2011)

Perasaan senang ketika mendaki gunung dicampur rasa menyesal kalau lagi capek, bawaan berat, melihat tanjakan terjal di depan, dan mengingat basecamp masih jauh. “Bodoh tapi senang,” mengutip istilah seorang teman. Hal ini juga yang mengantarkan kami menuju pendakian Tambora. Sudah dikasi tahu, Tambora kalau lagi musim hujan banyak pacet gede-gede plus jelatang di kanan kiri atas bawah. Tapi, tetap aja tidak mengubah tekad kami untuk mendaki Tambora.

Pendakian dimulai dari Desa Pancasila menuju pos bawah di dekat Kampung Bali dengan memakai jasa ojek. Pendakian dari pos bawah sampai pos 3 memakan waktu 4,5–6 jam. Jarak tempuh masing-masing pos sekitar 1,5-2 jam dan setiap pos memiliki sumber air. Tantangan terbesar dari pos bawah sampai pos 1 bukan terletak pada jalurnya karena memang tidak terlalu terjal. Tapi, pada pergulatan menantang para penghisap darah yang tidak segan-segan menempel dengan ganasnya. Ukurannnya memang tidak sebesar penghisap darah seperti di novel-novel roman. “HANYA” sebesar jempol pria dewasa saja. Kejamnya Tambora di musim hujan. Seorang teman ditempelin penghisap darah ini di bagian leher. Seram sekali bukan? Yang lain habis digerogotin kaki dan betisnya sampai berdarah-darah dan luka infeksi. Oh ya, penghisap darah ini adalah pacet, bukan drakula “the cullens”.

Selama perjalanan, kami sering menemukan buah berri hutan yang rasanya manis asam kecut, segar dan lumayan untuk bikin melek. Juga sering terdengar kicauan burung Rawamu yang lebih tepatnya mirip nyanyian. Rawamu sendiri berarti nyanyian untukmu. Jadi konon, si burung bernyanyi untuk mengiringi para pendaki.

Pendakian kami berhenti di Pos 3 yang kami jadikan sebagai basecamp. Pos 3 memiliki sebuah beruga kecil yang bisa memuat sekitar 4-5 orang. Cukup nyaman untuk berlindung di malam hari. Ada sebuah pohon besar yang konon menurut legenda setempat ditunggui oleh seorang wanita cantik yang bisu, putri dari seorang syekh.

Pendakian dari pos 3 menuju puncak kira-kira memakan waktu sekitar 5 jam dengan tanjakan yang lumayan terjal. Tapi jalur yang terjal tidak seberapa menyakitkan dibandingkan dengan sapuan mematikan dari para jelatang yang siap menghajar siapapun yang berani memasuki jalur ini. Kanan kiri atas bawah, bersiaplah para pendaki! Karena panas perih yang ditimbulkan para penantang jalur ini bisa bertahan selama berjam-jam. Apalagi kalau tepat menghantam di wajah…pediiiiih! Kami berangkat sekitar pukul 03.30 dini hari dan mencapai puncak sekitar jam 9 pagi hari termasuk berhenti untuk sholat karena hari itu adalah Hari Raya Idul Adha.

Puncak Tambora memiliki kawah yang sangat luas dan dalam. Pemandangan yang disajikan pun luar biasa indahnya. Lebih dari cukup untuk membayar pengorbanan selama pendakian. Jalur puncak merupakan jalur bebatuan kecil. Puncak tambora sendiri berupa tanah datar yang tidak terlalu luas dengan ketinggian 2,851 mdpl. Ketika di puncak kami tidak bisa berlama-lama, hanya 8 menit saja karena kabut mulai naik. Kami harus bergerak cepat untuk turun berpacu dengan kecepatan kabut yang sangat bersemangat untuk menutupi jalur kami turun.

Untuk turun relatif lebih cepat, diperlukan sekitar setengah lamanya waktu pendakian. Kami mencapai basecamp pos 3 sekitar jam 13.00 siang. Setelah makan siang dan bersiap, kami memulai perjalanan turun sekitar jam 15.30 siang. Perjalanan turun relatif berat karena pacet-pacet yang ganas pada siang hari ternyata lebih ganas lagi ketika hutan mulai gelap. Kami mencapai pos bawah sekitar jam 18.30. Para ojek sudah menanti kami dengan setia dan siap membawa kami pulang.

Banyak pelajaran berharga yang kami dapatkan dari pendakian Tambora. Salah satunya adalah mengenai kepercayaan lokal mengenai gunung ini. Konon, Tambora terkenal dengan segala kemistisannya karena pada letusan dahsyat tahun 1815 memakan korban jiwa sekitar 79.000 jiwa termasuk 11,000 jiwa yang terkubur hidup-hidup. Banyak yang percaya hal ini membuat Tambora banyak penunggunya. Kami sendiri mengalami beberapa keanehan dan sebenarnya ketika diceritakan kembali oleh guide dan pendamping kami yang bisa “melihat” ternyata sangat MENYERAMKAN!

Akan tetapi, seramnya kemistisan Tambora ternyata ada yang lebih seram lagi yaitu guide kami yang merangkap porter mendaki hanya dengan modal sandal jepit murah yang biasa dijual di warung. Astagaaaa! Dan semua olah raga jantung yang kami alami bersama pacet dan jelatang ternyata harus bersaing dengan adrenalin yang ditimbulkan oleh perjalanan kembali ke Desa Pancasila memakai ojek motor bebek di jalur tanah yang licin luar biasa oleh hujan. Benar-benar pendakian yang memberikan pengalaman luar biasa bagi kami mulai dari naik sampai kembali ke Desa Pancasila.

Pendakian 2 hari hanya untuk berada di 2,851 mpdl selama 8 menit. Benar-benar “bodoh tapi senang”.

Di Calabai Bisa Ngapain Aja Sih? (ACI 2011)

Pernah dengar Calabai? Sebuah desa nelayan kecil di Utara Sumbawa. Desa ini begitu indah dan terletak di tepi laut. Kesederhanaannya begitu mebekas di hati kami.

Di Calabai, tidak banyak kegiatan yang bisa kami lakukan. Namun hal-hal sederhana yang selama ini terlupakan kembali mengisi ingatan. Seperti mandi di sumur. Mana bisa mandi di sumur bila tinggal di kota besar, apalagi yang sepadat dan sesibuk Jakarta. Mandi di sumur begitu segar dan menyenangkan. Kami harus menimba dulu dan lama-lama otot pun terbentuk. Kesehatan dan stamina pun meningkat dengan melakukan hal yang alami ini.

Mancing Malam. Hal lain yang tidak bisa ditemukan di kota. Malam-malam kami naik perahu motor kecil pergi ke tengah laut dan mancing. Tahu tidak dapat apa? Ga dapat apa-apa! Padahal sudah nungguin berjam-jam dan pindah tempat 2 kali. Terakhir malah dapat ular laut. Langsung kami lepas dan pulang. Menyenangkan sekali pengalamannya. Kesabaran pun diuji sambil ditemani taburan bintang dan senyuman manis sang bulan.

Makan lesehan di lantai? Sudah biasa ya. Banyak restoran sekarang yang bikin lesehan. Namun lesehan di lantai tanah yang masih alami, makan ikan bakar hasil nembak dan dikelilingi kucing-kucing liar yang ingin ikut makan? Nah ini baru luar biasa. Ayam-ayam pun ikut berkeliling seolah-olah mengantri jatah makanan. Begitu alami, begitu sederhana.

Berenang sore-sore di tepi laut, loncat dari anjungan. Begitu mesra dan akrab terasa bercengkerama di sore yang begitu teduh. Begitu berbeda dengan kesibukan kota besar. Di sini kami saling mengenal, saling tertawa bersama, berenang bersama.

Semua hal-hal yang tidak biasanya kami lakukan di kota besar kini terasa begitu dekat dan akrab di hati. Kembali ke alam selalu mengingatkan diri ini untuk selalu bersyukur dan jujur pada diri sendiri.

Batu Mesir (ACI 2011)

Tidak banyak orang yang tahu tempat yang namanya Batu Mesir. Tempat ini terletak di Desa Santong di Lombok. Batu Mesir sendiri merupakan area persawahan dan perkebunan. Dari Batu Mesir kita bisa melihat matahari terbenam dan menghilang di antara tiga pulau yang berjejer. Yak! Betul sekali apa yang ada di pikiran Anda, pulau-pulau tersebut adalah Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Kata “Gili” sendiri berarti pulau kecil.

Tempat ini sendiri dinamakan Batu Mesir karena dulu pemilik tanahnya bernama Papuq Mesir. Tempat ini jarang dilalui orang dan masih terpencil. Pendamping kami adalah orang asli Santong sehingga beliau tahu “tempat rahasia” ini.

Bagi Anda yang ingin hunting pemandangan matahari terbenam di Lombok, tempat ini tidak kalah indahnya dengan tempat-tempat lain. Selain itu Anda juga bisa merasakan suasana sejuk di daerah ini.

Mengenal Kain Tenun Di Desa Sukarara (ACI 2011)

Di Lombok tengah ada sebuah desa bernama Sukarara. Mata pencaharian masyarakat desa ini kebanyakan adalah pengrajin kain tenun. Setiap hari mereka menenun kain dan menjualnya di toko-toko mereka sendiri.

Saat kami berkunjung ke sana sudah hampir maghrib. Tidak banyak toko yang masih buka. Kami memasuki salah satu toko yang cukup besar untuk melihat-lihat dan mengenal seperti apa kain tersebut. Kain tenun tradisional tersebut bernama kain Songket, cukup terkenal di Indonesia. Kain Songket ini dipakai sebagai bagian dari pakaian tradisional yang bernama Baju Lambung.

Untuk menenun satu kain Songket diperlukan minimal satu minggu untuk motif yang sederhana. Semakin rumit motifnya semakin lama waktu yang diperlukan, bisa sampai berbulan-bulan. Satu kain ini dijual mulai dari harga 300an ribu sampai 2 jutaan. Cukup mahal memang, namun mengingat bahan, motif, dan waktu pengerjaannya, harganya cukup masuk akal. Ada ukuran mulai dari anak-anak sampai dewasa.

Konon, para wanita di Desa Sukarara ini harus bisa menenun kain Songket sebelum menikah. Dan hal yang paling sulit dari menenun kain ini adalah menentukan motifnya di awal, karena yang terlihat mata di alat tenunnya hanyalah benang, benang, dan benang, dan benang lagi tetapi ketika ditenun bisa menjadi kain bermotif dan berwarna-warni. Bukan hal yang gampang tentu saja.

Kami sempat mencoba belajar menenun dan alhasil pinggang pun sakit karena harus duduk tegak dan mengandalkan kekuatan pinggang. Sedangkan tangan harus lentur di pergelangan dan menghentakkan alat tenun dengan lembut namun kuat. Semakin rumit saja bagi kami orang awam ini. Semakin kagum pula kami akan kehebatan masyarakat desa ini. Kain yang mungkin keliatan sepele namun dikerjakan helai demi helai dengan penuh keuletan dan ketelatenan. Luar biasa!

Bangsa kita memiliki sangat banyak budaya dan semuanya itu menjadikan kita kaya di dalam keberagaman.

Yang Sedap dari Lombok (ACI 2011)

Kalau lagi jalan-jalan ke Lombok, ingatlah untuk mampir di Desa Bayan Beleq. Karena di desa inilah mereka menyajikan brem terenak di seluruh Lombok. Harus dan wajib untuk dicicipi. Tipsnya adalah minumnya sedikit-sedikit, jangan langsung ditegak segelas gitu. Nah, ini adalah untuk mencegah rasa pusing yang langsung menyerang kalau sekali minum langsung banyak.

Brem ini sendiri terbuat dari ketan yang difermentasikan. Semakin lama disimpan semakin enak dan semakin keras alkoholnya. Ketika usianya masih muda, brem ini akan terasa manis di lidah, tetapi tetap memabukkan. Selain brem, Anda juga harus mencicipi sate ikan. Sate ini terbuat dari daging ikan dengan bumbu kuning, santan kental, ulekan ketumbar dan kunyit. Rasanya sungguh legit di lidah.

Lombok punya sejuta alasan buat Anda untuk mencintainya dan ingin terus menjelajahinya.

Salam brem dan sate dari Lombok. Sedaaaap!

Es Krim Rujak (ACI 2011)

Ngaku pernah ke Bima? Nah Anda tentu tahu dong apa yang enak dari Bima? Yak! Tepat sekali! Es Krim Rujak!! Seger dan nikmat di siang hari yang sangat panas di Bima atau pun di sore-sore yang teduh. Enak di setiap waktu dan di setiap suasana.

Harganya pun terjangkau Rp 5.000 dengan isi yang cukup banyak, minimal cukup mengenyangkan perut saya. Nah penasaran dong apa isinya? Nanas, nangka, mangga, dan krim coklat yang enak. Terakhir, di bagian atas dikasi limpahan es krim yang sangat banyak. Yang unik dan menarik adalah rasa es krimnya yang sangat berbeda dengan yang biasa kita makan. Rasanya manis, gurih, kental dan nyam nyam nyam…tak terlukiskan dengan kata-kata. Nikmat saja pokoknya.

Karena penasaran, kita pun bertanya pada ibu penjualnya. Ternyata rahasia di balik kenikmatan es krimnya adalah dibuat dengan tangan secara manual dan penuh perasaan. Bukan buatan mesin. Jadi kebayang kan sekarang, makan es krim yang enak buatan tangan, dibuat dengan penuh perasaan pula. Gimana bisa tidak enak kalau begitu caranya ya…

Nah untuk Anda yang berkunjung ke Bima, es krim rujak dijual di depan lapangan olah raga. Cari saja lapangan olah raga yang ada dinding panjatnya. Nah tepat di pinggir jalan di depan lapangan tersebut ada gerobak penjual es krim rujak.

Selamat menjelajah dan menikmati es krim rujak ini.