Percakapan terjadi di peron Stasiun Gubeng, Surabaya mengenai transportasi yang mengantarkan kita dari dan ke Surabaya untuk melakukan pendakian Gunung Welirang-Arjuno. Seperti masa kuliah dulu, perjalanan dilakukan dengan seirit mungkin: naik kereta, ngeteng angkot, naik bis, jalan kaki.

Ketika sedang menunggu kereta yang akan membawa kami kembali ke Bandung, terjadilah pembicaraan mengenai Filosofi Kereta antara Gipin dan aku. Kenapa kereta? Karena kereta adalah alat transportasi sederhana yang sudah ada dalam kehidupan kita sejak jaman dahulu. Intinya hidup itu bagaikan kereta yang berjalan terus dan berhenti di setiap stasiun. Dalam setiap perjalanannya ada orang yang masuk, duduk, dan turun. Ada juga yang hanya naik untuk berjualan sesaat dan turun lagi.

Persis seperti hidup yang kita jalani. Kita beraktivitas setiap hari, tetapi ada saatnya kita harus “berhenti” untuk beristirahat. Dan dalam setiap bagian kehidupan kita, ada yang mengikuti perjalanan hidup kita mulai dari awal sampai akhir. Ada juga orang-orang yang hanya masuk dalam hidup kita untuk sesaat.

Seperti halnya kereta yang akan terus berjalan tanpa dipengaruhi oleh jumlah penumpang yang banyak, sedikit, adanya penjual-penjual makanan, penebeng-penebeng, demikian juga hidup kita. Ketika orang-orang datang dan pergi dalam hidup kita, baik yang paling kita kasihi, yang kita sayangi, atau yang hanya kita kenal sesaat, hidup kita terus berjalan. Mungkin ini juga yang orang-orang katakan “life must go on”.

Akan tetapi, seperti kata Gipin, “ingatlah untuk beristirahat ketika Anda lelah”.

Kereta pun datang, kami mengangkat ransel dan bersiap melangkah ke dalam kereta yang akan membawa kami pulang.

Stasiun Gubeng – Surabaya, 16 Juli 2011

 

 

October 3, 2011

Jakarta@office

 NL

Advertisements